Rabu, 04 Februari 2009

Rabu, 21 Januari 2009

PERAN PENDAMPING UNTUK PROFESI

Setelah menjalani pernikahan, manusia berstatus mempunyai istri atau suami yang akan mendampingi hidupnya. Pola tatanan hidup masing-masing pribadi baik siistri ataupun suami sedikit banyak pasti akan mengalami adaptasi. Saling menyesuaikan diri satu dengan yang lain. Dua pribadi dengan dua latar belakang keluarga yang berbeda, tentunya akan menjadikan dua keadaan yang berusaha dikawinkan. Adaptasi atau penyesuaian ini, ada yang lama, ada yang sebentar. Ada yang bisa menjalani, tapi tidak jarang ada perkawinan yang hanya seumur jagung, Yang disebabkan karena tidak klopnya atau gagalnya didalam menjalani proses panjang adaptasi. Dan senyampang perubahan waktu dan kehidupan, maka penyesuaian bagi kehidupan pasangan suami istri tidak akan pernah berhenti sepanjang hidupnya. Yang mau tidak mau harus dijalani jika masih ingin bersatu.

Pendamping hidup sangatlah berperan didalam berbagai hal. Dan kali ini yang ingin saya soroti adalah peranan didalam menunjang karier dari masing-masing pasangannya.

Betapa para istri pegawai negeri sipil maupun militer , apalagi jamannya Orde Baru, sangatlah menunjang karier suami. Seorang istri pegawai negeri sipil atau militer , yang tidak aktif diorganisasi dikantor suaminya, meski sisuami cakap atau berpotensi sekalipun, akan sulit naik pangkat atau jabatan. Sebaliknya, meskipun suami kecakapan atau kepandaiannya pas-pasan, tetapi kalau siistri aktif diorganisasi dan pandai mengambil hati istri atasannya,maka suamipun akan mudah naik pangkat atau jabatan.

Kalau kita mencoba tengok kebelakang. Betapa almarhumah Hartinah sangat berperan dibalik karier suaminya yang presiden Soeharto waktu itu. Bukan rahasia umum kalau banyak selentingan yang mengatakan bahwa banyak keputusan-keputusan Soeharto yang keluar karena bisikan istri. Demikian pula mantan presiden Amerika Serikat Clinton. Media banyak membuka tabir rahasia mereka, bahwa sebenarnya Hillary lah yang sangat berperan akan keberhasilan dari mengantarkan suaminya naik ketahta presiden hingga mengambil keputusan-keputusan penting setelah menjadi presiden. Presiden Megawati tidak lepas dari peran besar sang suami Taufik Kiemas. Status Akbar Tanjung yang sampai saat ini banyak dipertanyakan orang sehubungan dengan dakwaan kasus korupsi. Ke “bebasan”nya pun banyak yang menengarai tidak lepas dari peran Nina sang istri. Dan masih banyak contoh-contoh lain, baik itu dari kalangan petinggi hingga kalangan bawah, dari kalangan selebritis sampai kalangan orang biasa, yang kalau diungkapkan akan menjadi barisan yang sangat panjang.

Seperti pedagang pasar di Yogya dan Solo jaman dulu dan bahkan sampai sekarangpun mungkin masih terjadi. Para suami mensupport istrinya yang pedagang pasar. Setiap pagi para suami memboncengkan istrinya dengan sepeda ontel kepasar untuk berdagang. Entah dagang kain batik, lurik, kain mori, sayuran dan lain sebagainya. Sisuami hanya mengantar, untuk kemudian pada sore hari menjemput kembali. Para suami ini, setelah mengantar istrinya, biasanya sesampai dirumah, merawat peliharaannya, yakni burung. perkutut dan sejenisnya. Memberi makan minum burung-burungnya, mengerek keatas tiang, kemudian dipetiti (Jw). Sambil bersiul-siul. Masing-masing, baik suami maupun istri dapat menerima, dan menjalani kehidupan seperti itu tanpa adanya protes satu dengan yang lainnya. Keberhasilan atau kesuksesan istri dalam berdagang, sehingga hidupnya menjadi serba berkecukupan bahkan sampai menjadi kaya raya, itu juga atas dukungan/support suami. Suami tidak merasa nelongso, tidak merasa rendah, meskipun statusnya hanya mengantar istri. Karena suami tidak pernah direndahkan istri, dan suami juga merasa bahwa andilnya cukup besar terhadap keberhasilan istrinya. Suami merasa bahwa dia telah memberikan support dengan mengantar dan bisa diajak mendiskusikan kalau ada permasalahan.Suami bisa berperan ganda, yakni dapat “ngentheng2 i” atau meringankan beban pikiran istri dengan menjadi penasehat dikala istri memerlukan.

Dan sekarangpun, kalau kita perhatikan, di Indonesia banyak suami yang “ternak teri” ngantar anak ngantar istri. Meskipun dua-duanya (suami istri kerja) atau siistri saja yang kerja, sedang suami entah sudah pensiun, di PHK atau dasarnya nggak mau kerja.

Disini saya hanya ingin memberikan gambaran bahwa betapa berperannya pendamping hidup bagi kelangsungan/kesuksesan, atau bahkan kegagalan karier pasangannya. Karena didalam “undang-undang Tuhan” ada menyebutkan bahwa wanita tidak wajib menafkahi (dalam hal ini sandang pangan dan papan) kepada pasangannya. Dan sebaliknya, suami berkewajiban, melindungi, menjadi pemimpin bagi keluarganya, (istri dan anak-anaknya), memberikan nafkah lahir (sandang, pangan dan papan) dan bathin (ilmu pengetahuan, dll), Maka secara otomatis, setiap langkah istri keluar rumah, baik itu untuk urusan karir, apalagi bukan, sepantasnya harus ijin kesuami. Seorang istri yang pimpinan biro konsultan/kontraktor bangunan,atau pekerjaan yang lain, harus mendiskusikannya dulu kepada suami, yang karena tuntutan pekerjaan mengharuskan istri keluar kota atau bahkan keluar negeri . Meskipun uang hasil kerjanya katakanlah itu untuk membantu menopang kehidupan rumah tangganya, tetapi seorang istri seolah-olah wajib lapor kepada suami. Jika suami tidak mengijinkan, maka sebagai istri yang masih menjunjung adat ketimuran, pasti akan mbangun miturut (menurut) kepada keputusan suaminya.

Anehnya lagi, meski para wanitanya sendiri sering menggembar-gemborkan masalah kesamaan hak dan berusaha memperjuangkan emansi wanita, (khususnya yang berkarir) , tetap akan berpikir seribu kali, apabila sudah mendapatkan lampu merah, peringatan dari suaminya menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan yang notabene akan berpengaruh terhadap karirnya. Bagi istri yang masih menginginkan keutuhan rumah tangganya, biasanya memilih mengikuti pertimbangan suami, sejauh pertimbangan tersebut masih bisa diterima oleh akal sehat. Sekalipun harus mengalahkan karir/pekerjaannya.

Seperti yang akhir-akhir ini hangat dibicarakan. Dengan merebaknya rumor (issue tak sedap) menyerang keluarga pasangan penyanyi pop kita Krisdayanti – Anang. Pada hal-hal kasuistik yang berkaitan dengan lingkup kerja Krisdayanti, maka seringkali, Anang lah yang memutuskan, Seperti kasus yang saya sebutkan diatas, untuk mengganti beberapa personil pekerja musik pengiring istrinya, dan yang katanya lagi memang kontrak kerjanya sudah habis, Ananglah yang berperan, dan memutuskannya. Apapun alasan Anang dalam membuat keputusan dilingkup kerja istrinya.Tapi yang lebih ingin saya tekankan disini, adalah bukan masalah gossip atau rumornya, tetapi lebih pada betapa peran suami sangat besar terhadap karier istri. Demikian juga waktu Krisdayanti yang beberapa waktu yang lalu memutuskan untuk tidak main sinetron lagi. Sekali lagi, keputusan itupun karena pertimbangan tidak diijinkan oleh Anang sang suami. Kebesaran Inul, penyanyi dangdut yang lagi naik daunpun tidak lepas dari peran suaminya Adam..Dalam wawancara dengan Jayasuprana disalah satu stasiun tivi swasta Inul mengatakan, bahwa peran suaminya sangatlah besar dibalik kebesaran namanya saat ini.

Tulisan saya yang panjang lebar ini, secara tidak langsung sekaligus menanggapi juga tulisan Sirikit Syah tentang ibu profesional (mossaik, edisi 4, April 2003 dalam rubrik opini) . Bahwasanya, ibu profesional hanya dapat tercapai apabila ada dukungan dari pendamping hidupnya. Kalau masih ada suami, maka peran suami akan sangat besar pengaruhnya,. Kalau sebagai single parent, maka siapa yang menjadi pendamping hidupnya saat itulah yang berperan. Kalau masih dibantu orang tuanya, pasti orangtuanya ikut berperan kembali. Demikian juga kalau hanya dengan anak-anaknya, baik masih kecil atau dewasa, ya pastilah anak sangatlah berperan.

Jadi kata kuncinya adalah : pendamping hidup kita siapapun dia, akan sangat mempengaruhi keprofesionalan, atau karier kita, khususnya . Seprofesional apapun kita, pastilah ada keterbatasannya. Ini kalau yang kita bicarakan adalah bukan kita yang seorang diri. Karena pada dasarnya hidup kita selalu berada diantara keluarga, dan banyak orang.

Surabaya, April 2003

PERAN PENDAMPING UNTUK PROFESI

Setelah menjalani pernikahan, manusia berstatus mempunyai istri atau suami yang akan mendampingi hidupnya. Pola tatanan hidup masing-masing pribadi baik siistri ataupun suami sedikit banyak pasti akan mengalami adaptasi. Saling menyesuaikan diri satu dengan yang lain. Dua pribadi dengan dua latar belakang keluarga yang berbeda, tentunya akan menjadikan dua keadaan yang berusaha dikawinkan. Adaptasi atau penyesuaian ini, ada yang lama, ada yang sebentar. Ada yang bisa menjalani, tapi tidak jarang ada perkawinan yang hanya seumur jagung, Yang disebabkan karena tidak klopnya atau gagalnya didalam menjalani proses panjang adaptasi. Dan senyampang perubahan waktu dan kehidupan, maka penyesuaian bagi kehidupan pasangan suami istri tidak akan pernah berhenti sepanjang hidupnya. Yang mau tidak mau harus dijalani jika masih ingin bersatu.

Pendamping hidup sangatlah berperan didalam berbagai hal. Dan kali ini yang ingin saya soroti adalah peranan didalam menunjang karier dari masing-masing pasangannya.

Betapa para istri pegawai negeri sipil maupun militer , apalagi jamannya Orde Baru, sangatlah menunjang karier suami. Seorang istri pegawai negeri sipil atau militer , yang tidak aktif diorganisasi dikantor suaminya, meski sisuami cakap atau berpotensi sekalipun, akan sulit naik pangkat atau jabatan. Sebaliknya, meskipun suami kecakapan atau kepandaiannya pas-pasan, tetapi kalau siistri aktif diorganisasi dan pandai mengambil hati istri atasannya,maka suamipun akan mudah naik pangkat atau jabatan.

Kalau kita mencoba tengok kebelakang. Betapa almarhumah Hartinah sangat berperan dibalik karier suaminya yang presiden Soeharto waktu itu. Bukan rahasia umum kalau banyak selentingan yang mengatakan bahwa banyak keputusan-keputusan Soeharto yang keluar karena bisikan istri. Demikian pula mantan presiden Amerika Serikat Clinton. Media banyak membuka tabir rahasia mereka, bahwa sebenarnya Hillary lah yang sangat berperan akan keberhasilan dari mengantarkan suaminya naik ketahta presiden hingga mengambil keputusan-keputusan penting setelah menjadi presiden. Presiden Megawati tidak lepas dari peran besar sang suami Taufik Kiemas. Status Akbar Tanjung yang sampai saat ini banyak dipertanyakan orang sehubungan dengan dakwaan kasus korupsi. Ke “bebasan”nya pun banyak yang menengarai tidak lepas dari peran Nina sang istri. Dan masih banyak contoh-contoh lain, baik itu dari kalangan petinggi hingga kalangan bawah, dari kalangan selebritis sampai kalangan orang biasa, yang kalau diungkapkan akan menjadi barisan yang sangat panjang.

Seperti pedagang pasar di Yogya dan Solo jaman dulu dan bahkan sampai sekarangpun mungkin masih terjadi. Para suami mensupport istrinya yang pedagang pasar. Setiap pagi para suami memboncengkan istrinya dengan sepeda ontel kepasar untuk berdagang. Entah dagang kain batik, lurik, kain mori, sayuran dan lain sebagainya. Sisuami hanya mengantar, untuk kemudian pada sore hari menjemput kembali. Para suami ini, setelah mengantar istrinya, biasanya sesampai dirumah, merawat peliharaannya, yakni burung. perkutut dan sejenisnya. Memberi makan minum burung-burungnya, mengerek keatas tiang, kemudian dipetiti (Jw). Sambil bersiul-siul. Masing-masing, baik suami maupun istri dapat menerima, dan menjalani kehidupan seperti itu tanpa adanya protes satu dengan yang lainnya. Keberhasilan atau kesuksesan istri dalam berdagang, sehingga hidupnya menjadi serba berkecukupan bahkan sampai menjadi kaya raya, itu juga atas dukungan/support suami. Suami tidak merasa nelongso, tidak merasa rendah, meskipun statusnya hanya mengantar istri. Karena suami tidak pernah direndahkan istri, dan suami juga merasa bahwa andilnya cukup besar terhadap keberhasilan istrinya. Suami merasa bahwa dia telah memberikan support dengan mengantar dan bisa diajak mendiskusikan kalau ada permasalahan.Suami bisa berperan ganda, yakni dapat “ngentheng2 i” atau meringankan beban pikiran istri dengan menjadi penasehat dikala istri memerlukan.

Dan sekarangpun, kalau kita perhatikan, di Indonesia banyak suami yang “ternak teri” ngantar anak ngantar istri. Meskipun dua-duanya (suami istri kerja) atau siistri saja yang kerja, sedang suami entah sudah pensiun, di PHK atau dasarnya nggak mau kerja.

Disini saya hanya ingin memberikan gambaran bahwa betapa berperannya pendamping hidup bagi kelangsungan/kesuksesan, atau bahkan kegagalan karier pasangannya. Karena didalam “undang-undang Tuhan” ada menyebutkan bahwa wanita tidak wajib menafkahi (dalam hal ini sandang pangan dan papan) kepada pasangannya. Dan sebaliknya, suami berkewajiban, melindungi, menjadi pemimpin bagi keluarganya, (istri dan anak-anaknya), memberikan nafkah lahir (sandang, pangan dan papan) dan bathin (ilmu pengetahuan, dll), Maka secara otomatis, setiap langkah istri keluar rumah, baik itu untuk urusan karir, apalagi bukan, sepantasnya harus ijin kesuami. Seorang istri yang pimpinan biro konsultan/kontraktor bangunan,atau pekerjaan yang lain, harus mendiskusikannya dulu kepada suami, yang karena tuntutan pekerjaan mengharuskan istri keluar kota atau bahkan keluar negeri . Meskipun uang hasil kerjanya katakanlah itu untuk membantu menopang kehidupan rumah tangganya, tetapi seorang istri seolah-olah wajib lapor kepada suami. Jika suami tidak mengijinkan, maka sebagai istri yang masih menjunjung adat ketimuran, pasti akan mbangun miturut (menurut) kepada keputusan suaminya.

Anehnya lagi, meski para wanitanya sendiri sering menggembar-gemborkan masalah kesamaan hak dan berusaha memperjuangkan emansi wanita, (khususnya yang berkarir) , tetap akan berpikir seribu kali, apabila sudah mendapatkan lampu merah, peringatan dari suaminya menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan yang notabene akan berpengaruh terhadap karirnya. Bagi istri yang masih menginginkan keutuhan rumah tangganya, biasanya memilih mengikuti pertimbangan suami, sejauh pertimbangan tersebut masih bisa diterima oleh akal sehat. Sekalipun harus mengalahkan karir/pekerjaannya.

Seperti yang akhir-akhir ini hangat dibicarakan. Dengan merebaknya rumor (issue tak sedap) menyerang keluarga pasangan penyanyi pop kita Krisdayanti – Anang. Pada hal-hal kasuistik yang berkaitan dengan lingkup kerja Krisdayanti, maka seringkali, Anang lah yang memutuskan, Seperti kasus yang saya sebutkan diatas, untuk mengganti beberapa personil pekerja musik pengiring istrinya, dan yang katanya lagi memang kontrak kerjanya sudah habis, Ananglah yang berperan, dan memutuskannya. Apapun alasan Anang dalam membuat keputusan dilingkup kerja istrinya.Tapi yang lebih ingin saya tekankan disini, adalah bukan masalah gossip atau rumornya, tetapi lebih pada betapa peran suami sangat besar terhadap karier istri. Demikian juga waktu Krisdayanti yang beberapa waktu yang lalu memutuskan untuk tidak main sinetron lagi. Sekali lagi, keputusan itupun karena pertimbangan tidak diijinkan oleh Anang sang suami. Kebesaran Inul, penyanyi dangdut yang lagi naik daunpun tidak lepas dari peran suaminya Adam..Dalam wawancara dengan Jayasuprana disalah satu stasiun tivi swasta Inul mengatakan, bahwa peran suaminya sangatlah besar dibalik kebesaran namanya saat ini.

Tulisan saya yang panjang lebar ini, secara tidak langsung sekaligus menanggapi juga tulisan Sirikit Syah tentang ibu profesional (mossaik, edisi 4, April 2003 dalam rubrik opini) . Bahwasanya, ibu profesional hanya dapat tercapai apabila ada dukungan dari pendamping hidupnya. Kalau masih ada suami, maka peran suami akan sangat besar pengaruhnya,. Kalau sebagai single parent, maka siapa yang menjadi pendamping hidupnya saat itulah yang berperan. Kalau masih dibantu orang tuanya, pasti orangtuanya ikut berperan kembali. Demikian juga kalau hanya dengan anak-anaknya, baik masih kecil atau dewasa, ya pastilah anak sangatlah berperan.

Jadi kata kuncinya adalah : pendamping hidup kita siapapun dia, akan sangat mempengaruhi keprofesionalan, atau karier kita, khususnya . Seprofesional apapun kita, pastilah ada keterbatasannya. Ini kalau yang kita bicarakan adalah bukan kita yang seorang diri. Karena pada dasarnya hidup kita selalu berada diantara keluarga, dan banyak orang.

Surabaya, April 2003

Senin, 25 Agustus 2008

Hiu Senayan

Hiu Senayan

Hiu yang satu ini rupanya pernah belajar di Senayan. Sebagai alumnus Senayan, ia tak tanggung tanggung kalau makan rakus sekali. Diberi makan daging ikan yang ditaruh diujung tombak, langsung di “untal” nya semua, sekalipun seharusnya bukan haknya. Nah, akibatnya “kloloden” tombak. Lantas sipawang akhirnya terpaksa menolong melepaskan tombak. Dasar Hiu Senayan1 (foto Jawa Pos)


Selasa, 19 Agustus 2008

beatifull sun rise












MATAHARI TERBIT diambil dari lantai 2 RUANG KERJA rumah DI Ringrioad Utara, Nanggulan no 45 Sleman
Yogyakarta dengan kamera hp Sony Ericson P800

Selasa, 22 Juli 2008

Japanese Architecture

Japanese Architecture

The usual historical and chronological method s are not entirely suited dealing with Japanese architecture and the history of its development.

The resons of this are due to the immunity of Japan, over very long periods. from external interference or influences. Those influences which have operated, such as that Chinese civilixation and the neighbouring culture of Korea, have been of themselves continous and only gradually developing, assimilating new elements.

The same is consequently oftrue religious.and philosophical development, and of social economical changes.

Even after the great and immensely influential eruption of Buddhism (after AD 588) into Japanese life, the original and age=old belief and traditions of Shinto survived alongside the new beliefs, and are current today relatively unchanged.

Complementary to this steady and strong tradition of thougt was highly organized structer of medieval society besed on industrious and skilled peasantry bound to their lands

The whole was reinforced by a highly developed

Craftsmanship using the available indigenous bulding materials of timber, metal, clay abd fibre.

One can only compare such as culture of the Nile valley; in which the overall forms are constant, and change only be observed after close examination.

In complete contrast with to this immunity, from external disturbance and stability of social culture, there has been throughout Japanese the constant tgreat and actuality of phosical disaster, on gigantic scale, from the natural earthequake and storm, so which these islads, are subject,. For they are situated on the edge of Pacific hurricane belt and also in an area of where earthequakes are regular and frequent occurrence.

To live with these great natural forces, men have been compelled to retrict themselves to the continued and universal use of timberfor building to the right up to the advent of Western influence in the last eighty years, which brought them steel and reinforced concrete and engineering techniques to counter the effects of nature. This choice of materials was made easier by the variety and quantity of local forest products and of the general-purpose of bamboo.

Sione though available in plenty, has in cosequence been practically eliminated as a building material, except for some store houses and in few rural areas, and for the defences of great feudal castles.

A side effect of great influence of Japanese architecture, resulting from the impermanent and temporary nature of so many materials used for construction, has been the replacement of ancient buildings by exact replicas as illustrated by the earliest Shinto shrines ( AD 478 ) which, though probably identical with the original design, have, in, fect, been reconstructed many times-as frequently as every twenty years.

Another vitalty important feature to bear in mind is the effect that the use of timber always has on form and plan---as a result of basic use of commont units of length, a rectilinear character becomes universal and all—pervading, even in asymmetrical lay—outx.

This natural formality has been used as contrast by the Japanese to the extreme and sometimes hyper-self-cocious irregularly of their garden; this is also related to the contrast between their society;s extreme rigidity and the universality and ‘nature cociousness’ of their religiousor philosophic out look.